masyarakat awam pada umumnya melihat anak2 punk hanya sebagai sampah masyarakat, generasi yang termarjinalkan etc etc. hal ini akibat dari citra yang di bangun oleh media dan ulah dari para posser ( anak2 yang sok berdandan ala punk ) berperilaku premis, dan hippies.  melakukan aksi2 yang sebenernya menghancurkan citra dari prinsip anak2 punk itu sendiri yaitu kebebasan dan DIY ( do it yourself ). kenyataan yang kita terima bahwa banyak yang terjebak dengan stigma negatif karena mereka hanya mengikuti punk untuk kebutuhan budaya pamer semata. tampat pelarian sehingga bersembunyi di balik tirai kebebasan dan menuhankan kebebasan yang sebebas bebasnya yang akhirnya merugikan orang laen dan masyarakat pada umumnya. sehingga menjuerumuskan anak2 punk ini ( posser ) ke proses pengkerdilan makna dari kebebasan itu sendiri. so coba terjemahkan antara kebebasan dan penghargaan terhadap kebebasan itu?

fery dan yudit adalah contoh kecil kenapa mereka harus memilih punk sebagai prinsip hidup mereka yang berlandaskan DIY ( do it yourself ). mereka besar di masyarakat yang mengkulturkan penyeragaman selera. masyarakat yang terlalu munafik untuk hal2 yang dianggap ” tabu “. meraka memberontak dengan setiap kekuatan yang mereka miliki yaitu memilih etika PUNK sebagai jalan hidup mereka. penampilan mereka dan cara hidup mereka sebagai counter cultur terhadap penyeragaman selera. sebagai menusia biasa dan makhluk sosial yang punya perasaan, mereka memilih punk bukan untuk pelarian semata tapi self difennce mereka terhadap serangan2 pengekangan ekspresi diri ( offence of cultur mainstream ) , penyeragaman selera, dan cultur budaya ” mapan  “yang di ciptakan oleh majoritas masy.
fery dan yudit bukanlah pemuda2 yang lari dari tanggung jawab. pemuda yang cengeng ato masih menjadi benalu bagi orang tua mereka. dengan etika DIY ( do it yourself / berdikari) dan prinsip yang mereka miliki memberikan sesuatu yang berarti dalam hidup mereka. fery adalah pemuda yang menjadi tulang punggung keluarga, ia merantau ke timur indoneisa tepatnya di mataram NTB dan mencari kerja. sekarang dia bekerja di salah satu instansi pemerintah, sorenya mengambil part time di usaha temannya. sedangkan yudit adalah seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di jogja, yang sangat sadar dan sangat mencintai keluarganya. mereka memilih punk bukan karena terpaksa atau sekedar ikut2an saja, punk bagi mereka cara menyikapi hidup dengan tidak tergantung kepada orang laen dengan terjemahan yang sangat sederhana yaitu mandiri.
hari2 mereka pun tidak selalu berpenampilan punk saja.hari biasa mereka berpenampilan layaknya orang normal laennya.mereka mempunyai jadwal yang rutin seminggu sekali, untuk melepas kepenatan dan bercanda tawa di pinggiran trotoar tiap malam minggu mulai jam 10 mlm. disaat anak2 muda yang lain lebih memilih diskotik ato tempat hiburan laennya. mereka  memilih jalanan sebagai tempat mereka berbaur bersama dengan kawan2 street punk mataram yang juga masing2 dari anak2 punk ini mempunyai profesi yang berbeda di keseharian mereka. ada yahg bekerja sebagai karyawan swasta, mahasiswa, tukang sablon, tukang parkir, pelajar dll. berdasarkan pengalaman penulis ke lokasi dimana mereka sering nongkrong, ternyata mereka adalah sosok2 yang sangat humoris bersahabat dan cerdas, beda banget dengan kesan dari luar yang terlihat sangar dan menyeramkan, perasaan mereka lebih lembut dari salju sekalipun.
disaat hantaman labelisasi dan pencitraan tak berimbang oleh media dan golongan masyarakat yang mempunyai ideologi ” mapan ” . mereka di jadikan tumbal dari “kegagalan” sistem penerapan budaya normal yang di dengungkan masyarakat umum dan pemerintah. dan membuat golongan ini ( punk ) sebagai budaya yang tidak di inginkan karena merupakan budaya impor dari luar ( baca inggris ). hal ini menjadikan mereka menjadi pribadi2 yang terkekang kebebasan ekspresinya dalam berpenampilan. oleh masyrakat yang menjungjung norma dan adat istiadat ketimuran ( katanya sih ! ). padahal menjadi punk bukan bagaimana kamu harus mirip menjadi punk rock star, tapi bagaimana kamu menghilhami diri, menggali potensi yang ada pede dengan DIY yang di pegang.
dan  jika di ambil benang merah dari ” kegagalan ” budaya normal tadi,indikatornya bukan terletak pada bagiamana cara berpakian anak2 ini. tapi kemampuan generasi muda itu memahami dan menyerap setiap budaya dari luar, dan di terjemahkan ke dalam ruang berpikir yang luas.tapi akhirnya kemunafikan masyarakatlah yang tidak memberikan ruang untuk memberi kebebasan berekspresi. berpenampilan aneh, seronok = sesuatu yang tidak baik dan akan di cap sebagai minor personal. jika kita berpikir legowo dan mau terbuka dengan lapang dada. bukankah ” kemandirian ” generasi muda yang menjadi modal awal suatu bangsa, selain faktor yang laen.
standar budaya mapan yang di terapkan oleh kalangan majoritas yang cenderung tekstual, akhirnya menimbulkan pengekangan2 yang bersifat parsial ( secara keseluruhan ) tampa di sadari hal ini menjadikan individu2 dalam suatu tingkat masyaraka menjadi miskin kreasi dan tumpul estetika. karena apa?……. yup ! hal ini merupakan akibat dari penjajahan selera oleh fundamentalis. kaum fundamentalis tidak akan pernah menerima keanekaragaman yang di bawa dari hati masing2 person.
ada pengalaman estetika disini ketika mereka berpenampilan punk. contohnya sepatu boot yang mereka gunakan sebagai bentuk penolakan terhadap aparat ( polisi dan tentara ) yang menindas rakyat kecil. celana robak robek sebagai bentuk anti ” budaya mapan “. rantai2 yang mereka gunakan sebagai bentuk protes terhadap polisi, rambut mohawk sebagai bentuk protes terhadap penyeragaman selera ( standar model rambut ) dan masih banyak pengalaman estetika mode yang mereka gunakan. bukan semata hanya karena style tapi mempunyai makna estetika di balik itu semua.
masyarakat umum melihat anak2 punk hanya sebagai sampah masyarakat, generasi yang termarjinalkan etc etc. hal ini akibat dari citra yang di bangun oleh media dan ulah dari para posser ( anak2 yang sok berdandan ala punk ) yang berperilaku premis dan hippies yang melakukan aksi2 yang sebenernya menghacurkan citra dari  kebebasan dan DIY ( do it yourself ) itu . kenyataan yang kita terima bahwa banyak yang terjebak dengan stigma negatif karena mereka hanya mengikuti punk untuk kebutuhan budaya pamer semata, tampat pelarian sehingga bersembunyi di balik tirai kebebasan dan menuhankan kebebasan yang sebebas bebasnya yang akhirnya merugikan orang laen dan masyarakat pada umumnya. sehingga menjuerumuskan anak2 punk ini ( posser ) ke proses pengkerdilan makna dari kebebasan itu sendiri. so coba artikan antara kebebasan dan penghargaan terhadap kebebasan itu?
hal ini yang sangat bertentangan dengan prinsip yang di pegang oleh fery dan kawan2 dalam menjalni hidup sebagai punk yaitu punk = DIY= kebebasan yang bertanggung jawab = pengalaman estetika = persaudaraan = cita rasa sosial yang tinggi = dan penghargaan terhadap personal . itulah yang menjadi jalan pikiran mereka saat ini. karena mereka hanyalah pemuda yang mencari arti kebebasan dalam nafas penghargaan terhdap nilai kemanusian, bukan pelarian dan kebutuhan budaya pamer semata.
dan ketika mereka berkeluarga nanti mereka akan tetap menjadi punk, tampa harus berpenampilan punk. karena setelah itu punk bagi mereka ada di hati dan perbuatan yang nyata. punk = DIY = kebebasan yang bertanggung jawab = persaudaraan = cita rasa sosial yang tinggi dan =  penghargaan terhadap personal.
u r fucking guys brur !!!

sumber: http://erickningrat.wordpress.com/2008/11/06/kenapa-saya-memilih-punk/

2 komentar:

  1. hmmm
    bukan berarti punk nggak cinta indonesia
    tapi mereka juga ternyata mencintai indonesia :)

    BalasHapus

Jangan lupa follow blog gue ya... salam sadulur

love punk

love punk